Monica Asha Benning

Berpacu Menjadi Yang Terbaik

KEBERADAAN FENOMENA BUDAYA ALAY DI KALANGAN REMAJA INDONESIA

diposting oleh monica-asha-benning-fib14 pada 09 January 2015
di Tugas Kuliah - 0 komentar

KEBERADAAN FENOMENA BUDAYA ALAY

DI KALANGAN REMAJA INDONESIA

 

Disusun oleh:

Monica Asha Benning (121411331012)

Sastra Jepang 2014

Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Airlangga Surabaya

 

 

Abstrak

Kemajuan teknologi membawa dampak pada kemunculan jejaring sosial dan beranekaragam jenis aplikasi untuk mengirim pesan seperti SMS dan BBM. Dari sanalah muncul suatu fenomena baru di kalangan remaja yang dikenal dengan fenomena alay. Alay merupakan sekelompok minoritas masyarakat(remaja) yang memiliki karakteristik melebih-lebihkan penampilan dan gaya bahasa baik itu lisan maupun tulisan. Ciri khas dari budaya alay adalah bahasa alay, seperti menggabung-gabungkan huruf, angka, dan simbol dalam penulisannya. Alayers atau pelaku budaya alay banyak didominasi oleh usia ‘pencarian jati diri’ atau usia remaja. Kajian ini berangkat dari adanya fenomena tersebut. Di satu sisi, remaja memasuki masa pencarian dan pembentukan identias diri tetapi di sisi lain kemunculan budaya alay di kalangan remaja dapat menyebabkan kemerosotan penggunaaan bahasa Indonesia sesuai dengan EYD, dan nantinya akan berpengaruh pada hilangnya budaya identitas bangsa Indonesia.

Keyword : fenomena alay, bahasa alay, pengidentifikasian remaja, lunturnya bahasa dan budaya

  1. PENDAHULUAN

Era globalisasi yang terus berlanjut di abad ke-21, pada mulanya merupakan wujud perubahan dan perkembangan sistem informasi, telekomunikasi, serta transportasi dengan fenomena dasar yaitu mempersingkat jarak hubungan antarnegara dan antarwilayah dalam batas ruang dan waktu. Perkembangan globalisasi ternyata telah memunculkan beranekaragam produk yang akhirnya juga berdampak pada berbagai bidang kebudayaan, mulai dari ilmu pengetahuan, pakaian, seni, bahkan bahasa. Tidak berhenti sampai pada titik tersebut saja, perkembangan-perkembangan budaya yang dimunculkan oleh globalisasi ternyata membawa tren baru atau fenomena baru yang sebelumnya tidak pernah ada.

Suatu tren biasanya adalah perilaku atau kebiasaan seseorang ataupun sekelompok orang yang menjadi gaya baru dan diikuti oleh masyarakat karena secara sengaja maupun tidak, penemu tren tersebut mempublikasikannya kepada masyarakat luas, seperti gaya hidup, kebiasaan, pakaian, lagu, cara berbicara dan bahasa. Negara-negara maju seperti Jepang, Korea Selatan dan Amerika Serikat berlomba-lomba memperkenalkan tren mereka ke berbagai belahan dunia, baik melewati media televisi, internet, berita, majalah, dsb. Tren-tren baru tersebut pada akhirnya mulai diikuti dan dinikmati oleh masyarakat, tak terkecuali masyarakat Indonesia. Tidak semua tren yang masuk ke Indonesia bersifat positif. Ada salah satu tren yang sedikit menyimpang dan sangat mewabah di kalangan masyarakat Indonesia dewasa ini, yaitu tren alay atau fenomena alay. Tren ini dibawa dari media massa seperti televisi kemudian mewabah dan menular ke berbagai bidang, khususnya di dunia remaja Indonesia. Kata ‘alay’ bisa diartikan sebagai ‘anak layangan’, ‘anak lebay’, dimana memiki makna sebagai anak-anak yang berlebihan. Contoh sederhananya saja, apabila kita membuka situs jejaring sosial seperti twitter dan facebook, banyak sekali ditemukan nama-nama account yang sulit dibaca dengan menngabungkan huruf dengan angka atau symbol dan menyingkat kata secara berlebihan. Sedangkan dalam gaya bicara, mereka berbicara dengan intonasi dan nada yang berlebihan. Anak-anak ini berlaku demikian karena ingin diketahui statusnya oleh teman-teman sebayanya melalui keeksisan maupun kenarsisannya dalam segala hal. Menurut Koentjaraningrat, “Alay adalah gejala yang dialami oleh pemuda-pemudi di Indonesia, yang ingin diakui statusnya di antara teman-temannya. Gejala ini akan mengubah gaya tulisan dan gaya berpakaian, sekaligus meningkatkan kenarsisan yang cukup mengganggu masyarakat dunia maya.”

Sesuai dengan pernyataan Koentjaraningrat bahwa fenomena alay bisa menyebabkan perubahan bahasa baik lisan maupun tulisan, perubahan cara berpakaian, perubahan perilaku dan sebagainya. Fatalnya, jika hal ini dibiarkan terus menerus maka akan berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan budaya serta tata Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bertahun-tahun bangsa Indonesia membangun identitas dan budayanya, tetapi kemunculan fenomena ini seolah ingin merusak citra bangsa Indonesia. Parahnya fenomena ini dialami dan digemari oleh para muda-mudi Indonesia, para penerus bangsa. Apakah kita hanya diam di tempat dan sekedar menyaksikan terkikisnya bahasa dan budaya Indonesia saja?

 

  1. ISI

Kemuculan Alayers dan Bahasa Alay

Fenomena anak alay atau anak layangan semakin merebak dewasa ini, mulai dari cara berpakaian hingga perubahan bahasa Indonesia yang turut pula dilebih-lebihkan. Tidak hanya bahasa, tulisan alay juga semakin menghiasa berbagai macam media sosial seperti facebook, twitter maupun iklan komersial di media massa. Alayers merupakan sebutan masyarakat bagi para remaja yang berperilaku alay. Menurut berita yang dikutip okezone,com(28/11/2012), Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, Bapak Bramantio menjelaskan, “Alay merupakan suatu fenomena yang terjadi pada sekelompok remaja minoritas dan memiliki karakteristik unik. Bahasa yang mereka gunakan terkadang “menyilaukan” mata dan “menyakiti” telinga bagi masyarakat yang tidak terbiasa.”

Budaya alay muncul pertama kali sejak adanya fitur SMS atau Short Message Service yang hanya memperkenankan pengguna menulis sebanyak 160 karakter saja. Keterbatasan karakter pada fitur handphone membuat mereka harus mencari cara untuk menyingkat isi SMS. Selanjtunya beriringan dengan kemunculan jejaring sosial seperti friendster dan facebook, budaya alay semakin berkembang di kalangan remaja khususnya. Dalam jejaring sosial, facebook misalnya, pengguna akan diberi kesempatan untuk mengutarakan dan mengrekspesikan segala hal lewat status, foto, bahkan pengguna bisa memberikan komentar pada postingan teman-temannya. Disinilah ajang alay akan muncul, mereka tentunya akan mengungkapkan keadaan dirinya lewat postingan-postingan secara berlebihan sehingga mendapatkan perhatian dari orang lain. Penggunaan gaya menulis yang berbeda dan isi status yang berlebihan bisa juga disebut sebagai bahasa alay. Bahasa-bahasa yang diutarakan di facebook umumnya sangat melenceng jauh dari kaedah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Contohnya saja ketika seorang remaja mengungkapkan kata “aku mau pulang ke rumah”, mereka akan mengungkapkannya menjadi “Aquwhh maw pul4nk ke Humzz” dan lain sebagainya. Kehadiran jejaring sosial facebook ikut mendorong munculnya ragam bahasa tersendiri. Istilah bahasa alay yakni bahasa tulis yang mencampurkan bahasa gaul lisan, bahasa Inggris, singkatan, kode, angka dan visualisasi. Bahasa ini berkembang di kalangan remaja, khususnya remaja SMP maupun SMA. Namun dalam pergaulan di jejaring sosial tak jarang bahasa alay pun sering digunakan oleh orang dewasa dan lansia. Bahasa alay umumnya menggunakan prokem anak muda Ibu Kota seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya, ragam bahasa yang berkembang di akhir 1980-an dan kemudian menjadi ragam bahasa media jejaring sosial yang khas. Bahasa ini dipilih oleh anak muda karena menurut mereka sifatnya yang unik, lucu, dan maknanya bisa bertentangan dengan makna yang lazim. Penyebarluasan bahasa alay yang kian pesat menunjukkan kedekatan antara anak muda dengan dunia teknologi, khususnya internet. Munculnya bahasa alay menunjukkan adanya perkembangan zaman yang dinamis, karena suatu bahasa haru menyesuaikan diri dengan penggunanya agar tetap eksis.

Bahasa alay merupakan salah satu cara anak muda untuk mengidentifikasi dirinya sebagai alayers atau anak alay. Penggunaan bahasa alay dapat berguna menumbuhkan eksistensi diri.Tidak dipungkiri bahasa alay semakin luas pemakaiannya dan semakin banyak remaja serta oragn dewasa yang menggunakan bahasa ini, dengan harapan orang lain yang melihatnya akan merasa tertarik dan penasaran untuk mempelajari hal yang serupa.

Remaja dan Proses Pengidentifikasian Diri Melalui Budaya Alay

Masa remaja merupakan masa-masa dimana seseorang berusaha untuk mencari identitas jati dirinya, ingin mendapatkan pengakuan, dan masih sangat labil sehingga remaja sering memiliki hasrat untuk meniru segala sesuatu yang dianggapnya menarik perhatian banyak orang tanpa melihat sisi negatif yang akan ditimbulkan. Menurut Erickson (1968), “Remaja memasuki tahapan psikososial yang disebut sebagai identity versus role confusion. Hal yang dominan terjadi pada tahapan ini adalah pencarian identitas. Remaja pada umumnya ingin diakui identitasnya secara khusus, terlepas dari identitas anak-anak dan dewasa. Ada beranekaragam cara yang dilakukan remaja dalam mengidentifikasikan dirinya dalam suatu komunitas maupun kelompok masyarakat. Menurut Lina Meilinawati, pengamat bahasa dari Fakultas Sastra Indonesia Universitas Padjajaran, ada 2 hal yang mendorong remaja menggunakan bahasa alay, “Pertama, mereka mengukuhkan diri sebagai kelompok sosial tertentu yaitu remaja.Yang kedua, ini merupakan sebuah bentuk perlawanan terhadap dominasi bahasa baku atau kaidah bahasa yang telah mapan.” Artinya, menggunakan bahasa baru, bahasa alay contohnya merupakan cara mereka untuk mengidentifikasikan dirinya benar-benar sebagai seorang ‘remaja’, bukan anak-anak maupun dewasa. Hal inilah yang mendorong mereka untuk terus menggunakan bahasa alay. Mereka beranggapan bahwa bahasa alay itu sangat menarik. Pada awalnya, mereka akan merasa asing dengan bahasa alay yang digunakan oleh teman-temannya, tetapi karena mereka menemukan satu titik bahwa bahasa alay merupakan hal yang menarik di mata orang lain, mereka akan berusaha mencari tahu dan mempelajari bahasa tersebut. Tidak cukup sampai disitu, mereka juga akan merealisasikan bahasa alay dalam kehidupan sehari-hari.

Disamping itu, remaja juga tidak ingin selalu terpaku pada bahasa baku, yang harus digunakan secara baik dan benar sesuai dengan kaidah yang berlaku. Seperti yang diketahui, bahwa usia remaja adalah usia yang tidak ingin dikekang dengan berbagai aturan-aturan. Itulah mengapa banyak remaja yang lebih memilih menggunakan bahasa alay daripada bahasa Indonesia yang baik dan benar. Menurut pandangan mereka, seseorang yang tidak menggunakan bahasa alay adalah mereka yang tidak gaul dan kampungan. Dengan adanya anggapan tersebut, otomatis banyak remaja yang kemudian tertantang untuk menggunakannya dan menciptakan bahasa-bahasa alay baru agar dapat digunakan oleh remaja lainnya.

Pengguna bahasa alay umumnya didominasi oleh remaja perempuan. Hal ini dikarenakan para remaja perempuan lebih “narsis” dibandingkan dengan remaja laki-laki, mulai dari cara berbicara, menulis, hingga kenarsisan berpose dalam foto. Remaja perempuan juga lebih sering membuka jejaring sosial seperti facebook dan memperbarui status-status mereka di jejaring sosial dibandingkan dengan remaja laki-laki yang hanya sesekali saja.

Dengan semakin majunya perkembangan teknologi, ditambah lagi kemunculan gadget-gadget yang berisi beranekaragam aplikasi dan jejaring sosial dapat menyebabkan perubahan sikap, perilaku, serta kebiasaan maupun dalam perkembangan bahasa di kalangan remaja khususnya, salah satunya perkembangan bahasa alay. Bahasa alay sangat mudah meluas di kota-kota besar karena daerah perkotaan, daerah industri sangat menunjang perkembangan gaya hidup yang berbasis teknologi. Dengan semakin mudahnya mengakses teknologi, maka semakin mudah pula mengenal bahasa alay lewat jejaring sosial, internet, media televisi, iklan, dan sebagainya .

Budaya Alay sebagai Bagian dari Budaya Populer Remaja

Budaya alay bisa dikategorikan sebagai budaya popular karena merupakan salah satu contoh dari budaya massa. Poin pertama, bahwa mereka yang mengacu pada budaya popular sebagai budaya massa ingin membangun kesadaran bahwa budaya popular ini budaya yang putus asa pada keinginan komersial. Hal ini diproduksi khalayak untuk khalayak sendiri. Salah satu ciri khas yang identik dari budaya alay adalah bahasa alay itu sendiri. Para alayers membuat cara bertutur mereka menjadi sebuah budaya baru yang mereka gunakan sendiri tanpa harus mengundang orang untuk masuk kedalamnya.

Populer atau tidaknya bahasa bukan dilihat dari sudut pandang pengguna bahasa tersebut, melainkan dilihat dari sudut pandang orang yang berada di luar budaya populer tersebut. Hal ini dimaksudkan agar timbul tawaran keanekaragaman dan perbedaan ketika diinterpretasi ulang oleh masyarakat di luar dunia popular itu sendiri. Meskipun demikian, budaya popular bukan diidentifikasi oleh rakyat secara keseluruhan, melainkan oleh orang lain yang berada di luar budaya popular dan masih menyandang dua makna kuno, yaitu jenis karya inferior dan karya yang sengaja dibuat agar disukai orang (Williams, 1985 : 237). Terkait dengan penjelasan Williams, Strinatri(2009 :25-26) mengungkapkan tiga pendapat yang menjadi inti teori budaya popular pada abad kedua puluh yaitu; pertama, apa atau siapa yang menentukan budaya popular, kedua, berkenaan dengan pengaruh komersialisasi dan industrialisasi terhadap budaya popular, ketiga, menyangkut peran ideologis budaya popular itu sendiri.

Gaya hidup popular identik dengan gaya hidup remaja yang biasanya memiliki gaya hidup yang glamour dan senang-senang. Gaya hidup maupun perilaku remaja bisa menjeadi identitas seseorang dalam kelompok dengan tipe gaya hidup tertentu, hal ini dikarenakan gaya hidup dapat dipahami sebagai bentuk kehidupan sehari-hari seseorang atau sekelompok orang, dengan harapan remaja tersebut bisa menjadi bagian dari kelompok tertentu. Gaya hidup ini bisa diketahui lewat kebiasaan, sikap, opini dan perilaku remaja dalam menyikapi berbagai hal. Misalnya saja ketika seorang remaja beropini lewat status-status, memposting foto maupun berkomentar di facebook, maka orang lain bisa menilai gaya hidup serta berasal dari golongan manakah remaja tersebut.

Saat ini, remaja dicitrakan sebagai subyek aktif dalam penyebarluasan budaya popular. Pemasaran produk-produk popular untuk remaja, sebagai kategori yang berbeda dari produk anak-anak dan dewasa telah ada sejak kata remaja ditemukan oleh industri periklanan Amerika pada tahun 1941, hingga pemasarannya menjadi berubah dramatis ketika kehidupan remaja menjadi komersial (Quart, 2008) Kini remaja telah menjadi alat pengekspoitasian dunia popular. Iklan dan televisi yang menampilkan remaja sebagai model-model mereka selalu menambahkan citra popular dan sukses dengan penggunaan merek-merek terkenal. Tak jarang, banyak remaja yang kemudian tergila-gila dan terobsesi untuk memiliki produk tersebut dan memperagakannya. Hal ini jelas sudah termasuk dalam kategori budaya alay.

Persoalan yang tidak jauh berbeda tentang pemicu kemunculan bahasa gaul juga dikarenakan munculnya bacaan-bacaan popular seperti komik, novel, majalah remaja yang menggambarkan konsep berbahasa yang lebih modern. Perbincangan seputar bacaan-bacaan popular pada akhirnya menghadirkan wacana baru bagaimana memaknai bahasa gaul dalam medan budaya popular sekaligus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan remaja. Kemunculan-kemunculan bacaan popular yang menganudung bahasa gaul sebenarnya hanya menjual mimpi-mimpi indah dan kesenangan sesaat pada remaja sehingga mempu mengurangi beban dan memberikan hiburan. Berawal dari kemunculan gaya berbahasa anak muda, bahasa gaul, dan bahasa alay dalam iklan, televisi, dan bacaan popular membentuk adanya ragam bahasa non formal yang kemudian hadir dan dekat dengan dunia remaja.

Pada dasarnya ada dua hal yang menjadi perhatian utama remaja, mengapa mereka seolah ‘harus’ menggunakan bahasa gaul (alay) dalam penggunaan bahasa baik lisan maupun tulisan yaitu; pertama, mereka mengukuhkan diri sebagai kelompok sosial tertentu, yaitu seorang remaja. Dimana jika mereka memilki identitas sendiri, artinya mereka harus memiliki ciri budaya dan bahasa yang berbeda dari usia-usia lain. Kedua, perlawanan terhadap adanya bentuk baku bahasa Indonesia. Remaja merupakan usia yang sangat labil dan mudah sekali baginya untuk meniru dan tertular dengan adanya budaya baru semacam ini. Terlebih pula terdapat anggapan bahwa bentuk-bentuk bahasa alay merupakan bahasa gaul dan seseorang yang tidak menggunakannya akan dianggap ketinggalan zaman dan kuno.

 

Dampak Adanya Fenomena Bahasa Alay di Indonesia

Masyarakat Indonesia khususnya remaja saat ini sudah mulai sulit untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Penggunaan bahasa EYD hanya digunakan dalam konteks formal saja seperti pada institusi dan lembaga. Namun dalam pelaksanaannya, remaja membuat standart dan aturan-aturan sendiri dalam mengungkap identitasnya. Bahasa alay secara langsung maupun tidak langsung telah mengubah masyarakat Indonesia untuk tidak menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan EYD. Kebanyakan remaja Indonesia yang menggunakan bahasa alay tidak mengertu cara berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Jika hal tersebut dibiarkan begitu saja, maka akan berdampak buruk bagi pertumbuhan dan perkembangan bahasa Indonesia di negeri ini. Padahal dalam situasi-situasi formal seperti sekolah maupun forum diskusi, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar saat dituntut penggunaannya. Tidak mungkin kita berpresentasi maupun berpidato di depan umum dengan mencampur-campurkannya dengan bahasa alay. Selain itu, penggunaan bahasa alay juga dapat mengganggu siapapun yang mendengar maupun membaca kata-kata yang dimaksud, bahkan fatalnya bisa menyebabkan salah presepsi mengenai arti yang dimaksudkan oleh si pembicara ataupun si penulis. Bisa jadi hal tersebut bisa menyulitkan seseorang karena membutuhkan waktu yang lama untuk memahaminya.

Penggunaan bahasa alay yang terus menerus bisa menyebabkan dampak yang fatal nantinya. Bisa jadi anak cucu kita tidak akan lagi mengenai Bahasa Indonesia dengan EYD yang benar, Bahasa Indonesia resmi yang telah dibangun susah payah oleh para pahlawan bangsa Indonesia. Bisa saja mereka tidak menggunakan Bahasa Indonesia yang telah sesuai dengan EYD sebagai pedoman berbahasa, kemudian menganggap remeh bahasa Indonesia. Jika hal ini terus berlangsung, maka dikhawatirkan akan menghilangkan budaya berbahasa Indonesia yang baik dan benar di kalangan remaja dan anak-anak. Padahal bahasa Indonesia merupakan identitas bangsa sekaligus bahasa pemersatu yang menyatukan beranekaragam suku bangsa yang ada di Indonesia.

Kurangnya kesadaran untuk mencintai bahasa di negeri sendiri berdampak pada tergilasnya bahasa Indonesia dalam pemakaiannya di masyarakat. Selain itu, kurangnya kesadaran remaja akan kecintaannya terhadap bahasa Indonesiadapat berdampak pada pergeseran budaya bahkan lunturnya identitas budaya. Sapir-Whorf(Matsumoto, 2000:3230) memandang bahwa bahasa yang kita gunakan akan berhubungan dengan proses berpikir yang kita miliki. Setiap budaya biasanya akan diasosiasikan dengan bahasa tertentu sebagai alat ekspresinya dan setiap bahasa akan diasosiasikan dalam sebuah budaya tertentu. Hal ini jelas menunjukkan bahwa bahasa mempunyai keterkaitan dengan budaya. Bagaikan dua sisi mata uang, bahasa dan budaya merupakan dua hal yang tidak bisa terpisahkan. Keduanya berjalan beriringan dan saling mempengaruhi. Apabila terjadi ketimpangan dalam hal berbahasa, tentu saja itu juga akan berpengaruh pada budaya dan identitas bangsa Indonesia sendiri. Bahasa merupakan sesuatu yang diwariskan secara cultural yang melibatkan interaksi sosial dalam proses pembelajarannya. Bayangkan jika karena kemunculan bahasa alay, maka banyak peserta didik yang akhirnya tidak mampu menguasai bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Bahkan ketika objek melakukan praktek mengajar di lapangan, mereka akan kesulitan dalam mengemukakan pikiran dan menyampaikan bahasa kepada peserta didiknya. Apabila berlangsung terus menerus, hal ini dikhawatirkan akan menjadi sebuah dampak panjang yang dapat ditiru oleh generasi penerus bangsa dan memunculkan generasi penerus bangsa yang tidak berbudaya.

 

  1. PENUTUP

Kemunculan budaya alay merupakan salah satu dampak kemajuan teknologi yang menyimpang di Indonesia. Salah satu hal yang paling khas dengan keberadaan para alayers (sebutan untuk para pelaku budaya alay) adalah bahasa alay. Bahasa ini merupakan penggabungan berbagai macam karakter, simbol, huruf, angka serta pencampuran dengan bahasa asing. Pelaku budaya alay didominasi oleh remaja SMP maupun SMP yang sedang dalam proses pencarian identitas di masyarakat. Perkembangan budaya alay di Indonesia sangat didukung dengan kemunculan jejaring sosial seperti facebook, frienster dan twitter. Adanya media massa seeperti tayangan televisi dan iklan komersial makin menambah kian maraknya budaya ini terus berkembang di Indonesia. Pada akhirnya, masyarakat akan menganggap bahwa media setuju dengan adanya perkembangan fenomena alay dan mendukung budaya ini agar diadopsi oleh remaja yang notabene sebenarnya masih dalam proses pencarian jati diri.

Apabila hal ini dibiarkan secara terus-menerus budaya alay bisa menyebabkan perubahan sikap dan perilaku seseorang dalam menyikapi berbagai persoalan, misalnya ia akan cenderung lebih melebih-lebihkan segala sesuatu. Selain itu bahasa alay juga dapat menyebabkan lunturnya penggunaan dan kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar di kalangan masyarakat Indonesia.

Ada beberapa cara yang dapat kita lakukan sebagai remaja dalam menanggulangi adanya budaya alay di sekeliling kita; pertama, mempelajari bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Di dalam pendidikan bahasa Indonesia tentu kita akan diajarkan penggunaan bahasa Indonesia sesuai dengan EYD. Diharapkan hal tersebut tidak hanya berhenti sampai pada penggunaan di lembaga institusi saja melainkan juga dalam hidup sehari-hari. Kedua, kurangi aktivitas di jejaring sosial dan perbanyak sosialisasi di dunia nyata bukan di dunia maya. Ketiga, membiasakan diri di depan kamera dan perbaiki penampilan. Banyak sekali alayers yang kurang terbiasa dengan adanya kamera sehingga mereka akan berpose berlebihan apabila mengetahui keberadaan kamera. Berpenampilan sesuai dengan umur dan situasi kondisi akan lebih baik dan lebih enak dipandang. Keempat, belajar lebih giat lagi. Akan lebih baik jika para alayers yang terdiri dari remaja yang masih muda tidak hanya eksis di dunia maya, melainkan juga di dunia pendidikanlewat prestasi-prestasi yang diraih.

Budaya alay bukanlah sesuatu yang haram untuk dilakukan. Boleh saja berlaku alay karena sebenarnya alay merupakan salah satu bentuk kreativitas remaja. Kita tidak boleh menonjolkan salah satunya dan meninggalkan budaya yang lain. Justru dengan kreativitas yang kita miliki kita bisa mengembangkan dan tetap mencintai budaya bangsa Indonesia dengan cara yang kreatif.

 

  1. DAFTAR PUSTAKA

Siregar, A. 2004. Popularisasi Gaya Hidup : Sisi Remaja dalam Komunikasi Massa.Lifestyle Ecstasy. Idi Subandi Ibrahim(ed). Yogyakarta : Jalasutra.

Storey, John. 2006. Cultural Studies Adan Kajian Budaya Pop.Yogyakarta :Jalasutra.

Williams, R. 1960.Cutural and Society. New York: Anchor Book.

www.academica.edu/6145989/FENOMENA_ALAY_BUDAYA_POPULER_DAN_PENGHANCURAN_BUDAYA

www.academica.edu/6723525/Bahasa_Alay_dan_Bahasa_Prokem_Tinjauan_Budaya_dan _Tahap_Perkembangan_Bahasa_di_Masa_Remaja

www.okezone.com/read/2012/11/28/373/724664/asal-usul-perkembangan-bahasa-alay

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :