Monica Asha Benning

Berpacu Menjadi Yang Terbaik

Kumpulan Analisis Karya Sastra Indonesia

diposting oleh monica-asha-benning-fib14 pada 30 June 2015
di Tugas Kuliah - 0 komentar

PENGANTAR KESUSASTRAAN UMUM

ANALISIS SEPULUH KARYA SASTRA INDONESIA

MONICA ASHA BENNING

121411331012

SASTRA JEPANG

UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA

 

Analisis Puisi Asmaradana Karya Subagio Sastrowardoyo

Seiring dengan berjalannya waktu, budaya terus menerus mengalami perubahan dari yang awalnya lebih mengutamakan norma/aturan berubah menjadi modern, bebas, dan menomorduakan aturan yang berlaku. Sama halnya dengan penciptaan sebuah karya sastra. Semakin mengarah pada jaman yang semakin modern, dimana segala karya sastra bisa dipublikasikan, disebarluaskan, diotak-atik bahkan bisa dikaji dan ditafsirkan sesuai dengan keinginan penyair maupun pembaca. Penyair bukan hanya bertugas sebagai pencipta, melainkan juga penafsir segala sesuatu. Oleh karena itu, penyair berhak mengukuhkan atau bahkan membuat tafsiran yang jauh berkebalikan/menyimpang dari rujukannya.

Subagio Sastrowardoyo dalam puisinya yang berjudul Asmaradana membuktikan hal tersebut. Asmaradana sendiri memiliki arti “Asmara” yang merupakan nama dewa percintaan dalam KBBI berarti (rasa) cinta. “Dana” diambil dari kata “dahana” yang berarti api. Selain “api cinta”, “asmaradana” juga dapat diartikan sebagai “percintaan yang menggebu-gebu” atau “rindu dendam asmara”.

Puisi Asmaradana bercerita tentang tokoh Sita dalam epos terkenal Ramayana. Disini, Subagio mengambil sudut pandang orang ketigas serba tahu. Apabila dalam kisah Ramayana yang ditulis oleh Walmiki pada abad ke-4 SM, Sita selalu dilukiskan sebagai seorang tokoh panutan masyarakat Jawa, dimana ia memiliki sifat yang setia, terhormat, dan selalu menjaga kesuciannya. Akan tetapi, Subagio keluar dari stereotip itu dan melukiskan tokoh Sita dengan deskripsi yang berkebalikan dari apa yang telah berkembang di masyarakat. Subagio bukan bermaksud untuk mengacak-acak cerita asli, melainkan lebih memperkaya.

Dalam cerita Ramayana, Sita digambarkan sebagai sosok wanita yang diombang-ambing oleh jeratan patriarki. Tetapi dalam puisi Asmaradana, Sita seolah diberi hak untuk bersuara bahkan memilih jalannya sendiri.

Sita di tengah nyala api
tidak menyangkal
betapa indah cinta berahi

Tokoh Sita dalam Asmaradana justru digambarkan terpesona oleh Rahwana dan melepaskan kesuciannya pada Rahwana.


Dewa tak melindunginya dari neraka
tapi Sita tak merasa berlaku dosa
sekedar menurutkan naluri

Pada geliat sekarat terlompat doa
jangan juga hangus dalam api
sisa mimpi dari sanggama

Berbeda dengan cerita Ramayana, disini Sita tidak diselamatkan oleh Dewi Agni dan dibiarkan hangus terbakar. Meskipun begitu, Sita tidak merasa menyesal dan tidak merasa bersalah. Ia hanya berharap agar momen indahnya bersama dengan Rahwana tidak hangus ditelan api. Digambarkan oleh Subagio, bahwa Sita ingin agar masyarakat memaklumi nalurinya sebagai seorang manusia. Subagio Sastrawardoyo ingin menyampaikan pesan bahwa setinggi-tingginya kedudukan manusia, sebanyak apapun ia dihormati oleh manusia , tentu manusia tetaplah manusia yang memiliki keinginan untuk mengikuti nafsunya.  

Daftar Pustaka

Tim Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

 

 

Analisis Novel Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer

Bumi Manusia merupakan novel pertama Pramoedya Ananta Toer dari Tetralogi Buru. Pram mengambil latar belakang awal abad ke-20, dimana masa itu merupakan masa munculnya berbagai pergerakan nasional. Dengan membacanya, kita seolah ditarik mundur ke belakang, merasakan bagaimana gejolak pergerakan nasional Indonesia pada jaman itu.Bahkan dengan gaya bercerita Pram, kita seolah diajak untuk mengambil peran dalam tokoh-tokoh yang ada didalamnya.

Bercerita tentang tokoh Minke, seorang pribumi berdarah ningrat yang pandai dan memiliki sifat revolusioner. Dengan keberanian dan kepandaiannya, ia berjuang membantu orang-orang pribumi di sekelilingnya untuk memperoleh hak-hak atas pemerintah Belanda. Menelusuri tokoh Minke, ternyata bukan hanya sekedar sosok imjinatif Pramoedya Ananta Toer. Pram berusaha menghidupkan sosok Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo (1880-1918) yang merupakan Bapak Pers Nasional.

Ada beberapa unsur penting dalam Bumi Manusia yang ingin disampaikan oleh Pram kepada pembaca. Tujuannya jelas, agar kita tidak melupakan sejarah dan belajar dari pengalaman bangsa Indonesia. Pertama, unsur yang sangat kental adalah adanya pertentangan kelas. Penokohan dalam Bumi Manusia jelas menggambarkan adanya suatu tingkatan masyarakat yang kemudian berlanjut pada pertentangan kelas. Kelas sosial tertinggi adalah penduduk kulit putih (Belanda), dilanjutkan oleh golongan Indo, warga Asia Timur(keturunan Tionghoa), bangsawan, rakyat biasa(pribumi). Dalam kasus pengolompokkan masyarakat, jelas orang Belanda adalah penguasa (kelas atas) terhadap warga pribumi. Pemerintahan Indonesia dikendalikan oleh pemerintah Belanda, hak-hak warga pribumi dirampas dan dikendalikan oleh pemerintah Belanda. Hal ini jelas bersangkutan dengan teori pertentangan kelas yang dikemukakan oleh Karl Marx. Kelas bawah hidup dibawah tekanan kelas atas (kaum kapitalis). Salah satu cara untuk keluar dari jerat tersebut adalah dengan mengadakan tindakan revolusioner. Sama seperti yang dilakukan oleh Nyai Ontosoroh dan Minke di depan pengadilan, walupun pada intinya kekuasaan atas yang akan selalu menang.

Perjuangan Nyai Ontosoroh juga menggambarkan sebuah perjuangan feminisme. Nyai pada jaman itu dianggap sebagai sosok wanita yang  memiliki stereotip negatif, wanita simpanan dan tidak berpendidikan. Nyai Ontosoroh sadar akan hal itu, sehingga ia berusaha keras untuk bekerja secara mandiri dan selalu belajar terus menerus. Nyai Ontosoroh beranggapan bahwa untuk melawan penghinaan, kebodohan, dan kemiskinan adalah dengan belajar. Pengalaman demi pengalaman yang dialami oleh Nyai Ontosoroh selama hidupnya menyebabkan ia menemukan kekuatannya sendiri untuk melawan terutama perjuangan melawan pemerintah kolonial Belanda yang secara keji merampas hak-haknya. Pram berhasil menggambarkan citra wanita yang bangkit melawan ketidakasilan sistem penjajahan. Nyai Ontosoroh dan Minke mengupayakan yang terbaik walaupun pada akhirnya mereka gagal. “Kita telah melawan, nak, Nyo , sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

Daftar Pustaka

Suseno, Franz Magnis. 1999. Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revolusionisme. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Toer, Pramoedya Ananta. 2005. Bumi Manusia. Jakarta : Lentera Dipantara.

www.merdeka.com/peristiwa/annelies-minke-fantasi-pramoedya-tentang-tirto-adhi-soerjo.html (diakeses 17 Juni 2015

 

 

Analisis Cerpen Izu no Odoriko Karya Kawabata Yasunari

Izu no Odoriko atau dalam bahasa Indonesia Penari Izu merupakan salah satu cerpen Kawabata Yasunari yang cukup terkenal. Menceritakan tentang seorang lelaki , tokoh “aku” yang bertemu dengan serombongan penari keliling di perjalanan menuju Semenanjung Izu. Tokoh Aku tertarik dengan salah satu dari penari Izu yang bernama Kaoru sehingga ia berkehendak untuk menelusuri kehidupan mereka. Dalam budaya Jepang, penari keliling dianggap memiliki nilai yang rendah, karena hanya menunjukkan erotisme dank kemolekan tubuh saja tanpa memberikan nilai positif bagi masyarakat.

Dalam cerpen ini, Kawabata lebih menonjolkan konflik psikologis yang dialami oleh tokoh Aku. Tokoh Aku sebagai seorang pelajar yang sedang mengalami masa peralihan menuju dewasa, sangat jelas digambarkan oleh Kawabata melalui konflik batin yang dialami tokoh Aku yang sedang jatuh cinta pada Kaoru. Melalui gaya penceritaannya yang khas, Kawabata membawa kita pada cinta muda-mudi yang diliputi oleh kecemasan batin, rasa malu tapi mau, dan pertimbangan-pertimbangan etika yang membuat tokoh Aku tidak bisa mengatakan perasaanya secara langsung pada Kaoru. Misalnya saja, kecemasan tokoh Aku tergambar ketika mendengar gemuruh kaki seperi kejar-kejaran yang tiba-tiba diam sunyi, dan tokoh Aku menduga bahwa Kaoru telah dinodai oleh pria.

            Alur yang digunakan Kawabata dalam cerpen ini adalah alur maju-mundur. Cerita berjalan runtut kedepan, tetapi ada saatnya dimana tokoh Aku mengalami flashback kebelakang ketika ia mengingat-ingat penari Izu yang pernah ditemuinya di masa lalu.

            Kawabata yang lihai menggunakan simbol-simbol dalam penceritaanya, ingin memberikan pembaca untuk tidak melihat penari dari sisi luarnya saja, penari Izu tidaklah sehina yang dipikirkan oleh masyarakat pada umumnya. Yang kedua, adalah pesan bahwa kebahagiaan manusia bersifat sementara dan semu, sama seperti pengalaman tokoh Aku dan penari Izu, tetapi kesempurnaan hidup tidak selalu berakhir dengan kebahagiaan yang kita angankan.

Daftar Pustaka :

Yasunari, Kawabata. 1985. Penari-Penari Jepang. (Penerjemah : Ajib Rosidi, Matsuoka Kunio) Jakarta : Penerbit Djembatan.

 

Analisis Novel Atsukushisa To Kanashimi To (Keindahan dan Kesedihan) Karya Kawabata Yasunari

Novel Atsukushisa To Kanashimi To atau dalam bahasa Indonesia “Keindahan dan Kesedihan” adalah salah satu novel karya Kawabata Yasunari yang cukup terkenal di kalangan masyarakat Jepang. Novel ini pertama kali diterbitkan tahun 1964, masa-masa setelah kekalahan Jepang atas Sekutu dalam Perang Dunia II. Kebebasan penulis untuk berkarya sangat terasa, bahkan hal-hal yang dirasa tabu mulai diangkat kedalam berbagai karya sastra . Salah satunya, pengaruh budaya Amerika seperti seks bebas sangat terasa dalam novel ini. Kawabata mencoba mengangkat hal-hal yang berbau erotisme, yang pada sebelum Perang Dunia II dianggap tabu dan dilarang di Jepang, tetapi tetap tidak menghilangkan unsur-unsur tradisional budaya Jepang. Bisa dikatakan bahwa Keindahan dan Kesedihan merupakan representasi atas kebebasan seorang penyair, kebebasan untuk berkarya tanpa harus dibatasi oleh etika norma dan agama.

Novel ini bercerita tentang Oki Taoshi yang hidup dalam bayang-bayang masa lalunya bersama dengan seorang perempuan muda bernama Ueno Otoko. Oki, seorang novelis yang telah hidup dengan istri dan keluarganya tidak bisa lepas dari jerat masa lalunya bersama dengan Otoko. Kemudian 24 tahun kemudian setelah hubungannya berakhir dengan Otoko, datang seorang gadis muda, Keiko yang berniat membalaskan dendam Otoko pada Oki.

Sama seperti novel-novel Kawabata sebelumnya, kisah sedih yang digambarkan dalam  Atsukushisa To Kanashimi To juga mendominasi novelnya yang terakhir ini. Upaya Kawabata dalam menggambarkan berbagi keadaan melalui simbol, tradisi-tradisi budaya Jepang sangat terasa dalam  novel ini. Contohnya saja, perayaan lonceng pada malam tahun baru. Dalam tradisi Jepang, memukul lonceng pada malam tahun baru memilki makna sebagai simbol bertambahnya usia, simbol kehidupan , dan perasaan hati manusia. Sama halnya ketika Oki dan Otoko pergi bersama untuk mendengarkan suara lonceng di malam tahun baru, menggambarkan bahwa keduanya masih memilki perasaan cinta yang sama walaupun telah berpisah selama 24 tahun.

            Kedua, lukisan kebun the karya Otoko.Kebuh teh sendiri memiliki makna ketentraman, ketengan batin dan jiwa.  Lukisan kebuh the Otoko erat kaitannya dengan perpisahannya dengan Oki dan keputusannya untuk meninggalkan Oki, Tokyo dan segala kisah pilunya. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menemukan ketenangan batin.

Secara garis besar, tema yang diangkat kedalam novel Keindahan dan Kesedihan adalah tentang makna sebuah perkawinan, cinta, dan seks. Kawabata juga berusaha mengangkat cerita mengenai jalinan cinta sesama jenis, yakni antara Keiko dan Otoko. Tapi bisa terlihat jelas , cinta antara Keiko dan Otoko adalah cinta sepihak, karena Otoko masih memiliki perasaam pada Oki.  Lebih dari itu, makna yang ingin diangkat sebenarnya bahwa cinta bisa mendatangkan 2 hal, kebahagiaan dan kebencian. Kebahagiaan terlihat dalam kehidupan Otoko 24 tahun yang lalu, ketika ia bersama dengan Oki. Tetapi kebencian datang ketika Oki merusak kehidupan Otoko.

 

Daftar Pustaka :

Yasunari, Kawabata. 2006. Keindahan dan Kesedihan. Yogyakarta : Jalasutra.

http://download.portalgaruda.org/article.php?article=116532&val=5319

 

Analisis Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk Karya HAMKA

 

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk merupakan cerita asli dari sebuah kejadian tenggelamnya kapal Belanda yang berlayar dari Tanjung Perak menuju Tanjung Priok di perairan pesisir Lamongan. Walaupun didasarkan pada kisah nyata, HAMKA tak kehabisan ide dalam menuangkan pemikirannya ke dalam novel. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk jelas telah dibubuhi oleh bermacam-macam kejadian, perasaan, sandiwara bahkan imajinasi HAMKA sendiri sehingga keseluruhan cerita seolah tampak fiksi belaka.

Keseluruhan cerita Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk adalah kisah cinta muda mudi bernama Zainuddin dan Hayati. Keistimewaannya terletak pada setting tempat dan waktu yang membuat pembaca seolah hidup di tengah tradisi dan budaya Minang. Sekilas, novel tenggelamnya Kapal Van Der Wijk memiliki inti cerita yang sama dengan cerita Siti Nurbaya karya Marah Rusli. Kisah tentang makna cinta, perjodohan, dan aturan-aturan adat yang membatasi keduanya.

            Aturan-aturan adat Minang menjadi permulaan adanya konflik antar tokoh didalamnya.

Zainudin yang awalnya tinggal di Makassar, namun karena kematian ibunya, ia pindah ke Padang untuk mencari keluarga ayahnya yang masih hidup. Perbedaan budaya yang jauh antara Minang dan Bugis membuat Zainudin mengerti bahwa ia tidak berhak mendapat warisan apapun dari ayahnya. Berbeda dengan suku-suku yang ada di Indonesia, suku Minang merupakan suku yang menganut paham matrilineal (garis keturunan ibu). Dalam budaya matrilineal, seorang anak tidak berhak atas harta ayahnya. Jika ayahnya meninggalkan harta setelah wafat, harta tersebut harus beralih tangan ke saudaranya. Hal ini pulalah yang dialami oleh Zainuddin dalam novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” karya HAMKA.

Kedua, melalui novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, kita bisa melihat upaya HAMKA yang seolah-olah ‘mengkritik’ tradisi Minang. Orang Minang memang membolehkan anak/keturunannya bergaul dengan suku lain, tetapi tetap ada batasan. Telihat dari tokoh Zainuddin yang merupakan seorang keturunan Minang-Bugis, tidak diperbolehkan bergaul dengan Hayati. Lebih dari itu, masyarakat disana bahkan mengucilkan Zainudin yang bukan keturunan Minang asli. Selain itu, kenyataan bahwa Zainudin bukan berasal dari keluarga ‘berada’ , sedangkan keluarga Hayati merupakan keluarga terpandang di sana jelas membuat mamak Hayati tidak pernah menyetujui hubungannya dengan dan Hayati.

Kondisi yang dialami oleh Zainuddin tidak hanya menimpa dirinya, melainkan juga keturunannya kelak. Karena budaya matrilinear di negeri Padang, Zainuddin tidak boleh mewariskan gelar kepada keturunannya jika pun Zainuddin dipinjamkan gelar oleh keluarga ayahnya setelah menjalankan ritual-ritual yang telah ditentukan oleh adat.

Tetapi, ada nilai lain yang ingin disampaikan HAMKA melalui tokoh Zainudin. Walaupun seluruh kehidupan Zainudin bisa dikatakan gagal, mulai dari kehidupan percintaannya dengan Hayati, kehidupan keluarganya, kehidupan dengan masyarakat Minang di sekelilingnya, ia tidak berhenti sampai disitu saja. Ia memutuskan untuk berjuang memperbaiki nasibnya lewat keputusannya untuk pindah ke Jakarta dan Surabaya. Sehingga pada akhirnya, ia menjadi seorang penulis terkenal dan tetap mejadi sosok yang dermawan dan tidak sombong.

Kisah tentang kematian Hayati karena tenggelamnya Kapal Van Der Wijk bukanlah inti dari novel ini. Sorotan utama HAMKA adalah tentang tradisi budaya matrilineal suku Minang yang ingin diangkat agar lebih dikenal oleh masyarakat Indonesia.

 

 

Analisis Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari

Ronggeng Dukuh Paruk merupakan novel pertama trilogi Ahmad Tohari : Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala. Novel ini dilatarbelakangi oleh keadaan sebuah dukuh/desa yang bernama Paruk, daerah sekitar Banyumas dan sekitarnya. Jika kita melihat dari riwayat hidup Ahmad Tohari, ia lahir di Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, jelas bahwa novel ini memiliki keterkaitan dengan kehidupan Ahmad Tohari. Ada beberapa hal yang bisa dikaji melalui novel ini, terkait dengan hubungan novel dengan realitas kehidupan pengarang bahkan riwayat kehidupan pengarang apabila dikaitkan dengan tokoh-tokoh dalam Ronggeng Dukuh Paruk.  

Ahmad Tohari merupakan orang Jawa yang dibesarkan di Jawa, jelas ia sangat mengenal kebiasaan dan kebudayaan Jawa. Ia juga merupakan seorang santri yang sangat memperhatikan kaum bawah, terbukti dari keterlibatannya mengelola sebuah pesantren peninggalan orangtuanya di desa kelahirannya untuk mengembangkan potensi dan pemberdayaan warga desa. Apabila dibandingkan dengan kehidupan Ahmad Tohari dengan Ronggeng Dukuh Paruk, terdapat kesamaan-kesamaan antara kehidupan Ahmad Tohari dengan kehidupan tokoh Rasus. Keluarga Ahmad Tohari pernah keracunan tempe bongkrek bahkan ada beberapa keluarganya yang meninggal, Ahmad Tohari tidak setuju kesewenangan terhadap hak kemanusiaan dalam dunia peronggengan, Ahmad Tohari merupakan keluarga terpandang di desa kelahirannya, Ahmad Tohari selalu mengidolakan sosok ibunya sebagai sosok wanita yang ideal. Realitas tersebut jelas sama persis dengan pengalaman hidup dan sifat-sifat yang tergambar pada tokoh Rasus.

Melalui novelnya ini, Ahmad Tohari ingin melukiskan bagaimana kehidupan masyarakat yang masih berada dalam alam pikiran mistis, miskin dan kurang memahami aturan-aturan moral. Terlihat pada sikap Rasus yang menentang adanya adat istiadat di desanya yang sangat menyeleweng dari nilai kemanusiaan. Reaksi Ahmad Tohari terlihat dari sikap Rasus yakni keraguannya terhadap dongeng yang dipercayai sebagai legenda Dukuh Paruk, kebencian Rasus terhadap pekerjaan Srintil, kebencian Rasus terhadap masyarakat Dukuh Paruk yang memperlakukan Srintil tidak manusiawi hingga akhirnya ia pergi dari Dukuh Paruk.

Apabila kita meperhatikan secara detail, sikap Rasus yang menolak adat istiadat ronggeng di tanah kelahirannya bahkan Rasus memiliki pendirian sendiri dengan menolak adat tersebut karena tidak sesuai dengan nilai-nilai moral manusia, harusnya dipengaruhi oleh pendidikan yang pernah ia tempuh. Tapi kenyataannya, Rasus tidak pernah menempuh pendidikan secara formal. Lebih dari itu, Rasus bisa memiliki pengetahuan tentang jenis bakteri pseudomonas coccovenenans. Jelas bahwa hal itu dipengaruhi oleh pengetahuan Ahmad Tohari karena ia pernah berkuliah di Fakultas Kedokteran.

Ronggeng Dukuh Paruk menunjukkan empati Tohari yang begitu besar terhadap masyarakat Jawa abangan yang masih percaya pada hal-hal seperti tahayul, dongeng-dongeng nenek moyang padahal jelas bahwa hal tersebut bersimpangan dengan ajaran-ajaran moral agama Islam. Pesan-pesan yang ingin disampaikan Rasus adalah bahwa seorang wanita harus mampu menjaga keperawanannya sebelum menikah, dan manusia hendaknya hanya percaya pada Tuhan bukan pada hal-hal duniawi yang bisa menghantarkan manusia pada malapetaka.

 

 

Analisis Novel Dibawah Lindungan Ka’bah Karya  HAMKA

Tema utama yang ingin disorot oleh HAMKA dalam novel Dibawah Lindungan Ka’bah adalah tentang percintaan yang terhalang oleh status sosial bahkan penulis menyebutnya dengan “kasih tak sampai”, salah satunya dibuktikan melalui “Mustahil dia akan dapat menerima cinta saya, karena dia langit dan saya bumi, bangsanya tinggi dan saya hidup darinya tempat buah lekat hari Zainab. Jika kelak datang waktunya orang tua bermenantu, mustahil pula saya akan termasuk dalam golongan orang terpilih untuk menjadi menantu Engku Haji Ja’far. Karena tidak ada yang diharapkan dari saya. (HAMKA, 2012:24). Dari situ jelas terlihat konflik batin yang dialami Hamid , disatu sisi ia sangat mencintai Zainad namun perbedaan status sosial-lah yang menyebabkan Hamid mundur dan menjauhi Zainab.

Tetapi bagaimanapun cinta yang ditakdirkan Allah memang tak terpisahkan. Walaupun mereka tidak disatukan dalam ikatan pernikahan yang sah, namun keduanya sama-sama dipanggil oleh Allah. Pesan yang ingin disampaikan novel ini adalah dengan berserah diri pada-Nya segala permasalahan akan menemukan titik akhir dan dapat diatasi dengan baik walau terkadang banyak hal yang merintangi. HAMKA juga ingin menyampaikan bahwa cinta yang tulus adalah sesuatu yang abadi dan suci. Perasaan cinta adalah anugrah Allah yang sangat adil karena tidak memandang status, latar belakang dan perbedaan manusia.

 

Daftar pustaka : HAMKA.2012. Dibawah Lindungan Ka’bah. Jakarta : PT. Bulan Bintang

 

Analisis Novel Kembang Jepun Karya Remi Sylado

Diskriminasi merupakan salah satu cirri kolonialisme, sekaligus mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia pada masa penjajahan Belanda dan Jepang, tak terkecuali diskriminasi terhadap kaum perempuan. Diskriminasi terhadap kaum perempuan adalah sorotan Remi Sylado dalam novel Kembang Jepun.  Berlatar belakang di daerah Kembang Jepun, Surabaya, pembaca diajak mundur untuk mengetahui salah satu kisah sejarah yang mengenaskan , khususnya bagi kaum perempuan.

Novel ini mengangkat perjuangan feminism seorang tokoh keturunan Minahasa yang dipaksa menjadi seorang geisha, Keiko. Perjuangan feminism tergambar dari usaha Keiko untuk keluar dari kehidupan geisha yang selalu terinjak-injak, teraniaya,  dan tidak diberlakukan secara adil khususnya apabila dibandingkan dengan laki-laki. Ia ingin jeluar dari dunia geisha dan hidup normal seperti wanita pada umumnya, yang bisa menikah, berkeluarga dan memiliki anak. Perempuan geisha dalam segala aspek kehidupannya selalu diberlakukan secara tidak adil. Seharusnya mereka dihargai sebagai makhluk yang memiliki kapasitas berpikir yang sama dengan laki-laki.

Lewat novelnya, Remi Sylado berusaha mengungkapkan kritiknya terhadap budaya dominasi terhadap kaum perempuan. Kekerasan dalam rumah tangga, perjualbelian perempuan dan kekerasan seks merupakan gambaran kehidupan perempuan dalam novel Kembang Jepunn. Kekuasaan dalam bentuk seksual menjadikan perempuan sebagai objek untuk dinikmati, dimiliki, diperdagangkan laki-laki, bukan sebagai individu yang memiliki hak penuh atas diri dan kehidupannya.

 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :